09 Agustus, 2012

Masjid Auburn Gallipoli, News South Wales, Australia

Di Australia, Islam adalah agama keempat yang paling banyak pemeluknya setelah Kristen, “No Religion” (tidak beragama) dan Buddhisme. Sensus penduduk 2006 mencatat bahwa jumlah umat Muslimin di Australia adalah sekitar 340.392 orang atau 1,71% dari total jumlah penduduk Australia.

Walaupun secara bersama-sama diidentifikasi sebagai pemeluk agama Islam, namun pada kenyataannya komunitas Muslimin di Australia sangat beragam etnis dan rasnya. Komunitas Muslimin di Australia terdiri dari orang-orang keturunan Timur Tengah, Afrika, Turki, Lebanon, Asia Tenggara, dan India, yang sebagian besar baru datang ke Australia sejak dekade 1970-an.

Karena jumlah penganut agama Islam yang cukup besar baru muncul sejak dekade 1970-an itu, maka Islam sering dianggap sebagai agama yang relatif “baru” bagi Australia. Namun, sebenarnya umat Muslimin sudah menapakkan kaki di tanah Australia bahkan sejak sebelum kedatangan orang-orang Inggris – yang kemudian mendirikan negara Australia – dan selama masa kolonial.

Kedatangan Umat Muslimin Awal di Australia
Umat Muslimin pertama yang tiba di Australia adalah para pedagang yang merupakan penduduk pribumi kepulauan Indonesia, yaitu orang Makassar dan Bugis dari Pulau Sulawesi. Kemungkinan besar mereka telah menjalin hubungan yang harmonis dengan penduduk pribumi Australia bagian utara.

Gambar 1 Masjid Auburn Gallipoli, New South Wales, Australia (sumber: abc.net.au)
Orang-orang Makassar mencari teripang (sering juga dikenal sebagai ketimun laut), yang sangata laris sebagai menu kuliner maupun pengobatan di pasar China. Sedangkan orang Bugis kemungkinan besar melakukan perdagangan dengan penduduk pribumi Australia.

Selama melakukan aktivitas-aktivitas itu, mereka meninggalkan jejak di kalangan penduduk pribumi Australia utara, baik dalam bahasa, seni, ekonomi dan bahkan juga dalam genetika, karena ditemukan kemiripan genetik antara orang Makassar dengan leluhur pribumi Australia di Laut Arafura dan Banda.

Gambar 2 Masjid Auburn Gallipoli, New South Wales, Australia

Dalam pelayaran pertama orang Eropa yang tiba di benua Australia sudah terdapat orang Muslim. Mereka bekerja sebagai buruh dan navigator atau pemandu jalan. Di antara para tahanan (convicts) yang dikirim oleh pemerintah Inggris ke Australia juga terdapat beberapa orang Muslim. Mereka ini melakukan perkawinan silang dengan masyarakat setempat dan keturunannya berasimilasi dengan masyarakat tersebut. Tidak banyak yang dapat diketahui tentang mereka karena mereka tidak banyak meninggalkan jejak.

Baru pada abad ke-19 saja umat Muslimin yang datang ke Australia cukup banyak dan teratur. Antara tahun 1860 dan 1890-an, banyak orang dari Asia Tengah yang datang ke Australia sebagai pengendara unta. Unta pertama kali tiba di Australia pada tahun 1840, sedangkan pengendara unta yang beragama Islam pertama kali tiba pada tahun 1860. Saat itu, delapan orang Muslim dan Hindu tiba dengan membawa unta untuk membantu ekspedisi Burke dan Wills. Pada tahun 1866, 31 orang pengendara unta tiba dari Rajashtan dan Baluchistan. Walaupun mereka datang dari berabgai negara, namun mereka sering dirujuk sebagai orang “Afghan”.

Banyak pengendara unta yang tinggal di sekitar daerah Alice Spring dan daerah-daerah di Australia utara yang lain. Mereka juga melakukan perkawinan silang dengan penduduk pribumi. Karena besarnya peran mereka dalam transportasi darat di Australia yang menggunakan unta, maka jalur kereta pertama dari Adelaide ke Darwin, yang menggunakan unta sebagai tenaga penarik, dinamakan sebagai “The Ghan” (kependekan dari “The Afghan”).

Masjid pertama yang dibangun di Australia adalah sebuah masjid di Maree, Australia Selatan, pada tahun 1882, disusul dengan Masjid Raya Adelaide pada tahun 1890 yang dibangun oleh keturunan para pengendara unta. Sejak itu, peningkatan jumlah umat Muslimin hingga tahun 1970-an di Australia tidak signifikan.

Meningkatnya Jumlah Umat Muslimin
Pada permulaan abad ke-20, pemerintah Australia menerapkan kebijakan yang dikenal sebagai White Australia. Kebijakan ini melarang masuknya para imigran selain orang kulit putih karena mereka dianggap sebagai penyebab ketidakharmonisan sosial. Sehingga, pada tahun-tahun awal itu, hanya sedikit saja umat Muslimin yang dapat masuk ke Australia, terutama dari negeri-negeri Eropa yang banyak penduduk muslimnya seperti Bosnia dan Albania.

Pada tahun 1920-an, ketika Kemal Attaturk berhasil mengkudeta Sultanan Ottoman terakhir, dia menerapkan kebijakan yang sangat kejam kepada para penduduk di wilayah yang pernah menjadi provinsi Kesultanan Ottoman. Beberapa orang Libanon terpaksa mengungsi ke berbagai negara lain, termasuk Australia. Di Australia, mereka sempat menerima perlakuan yang membuat mereka marah. Pemerintah Australia menganggap mereka sebagai warga negara Turki dan diharuskan memegang paspor Turki untuk masuk ke Australia. Padahal, pada saat itu pemerintah Turki adalah pemerintah zalim yang tidak lagi dikuasai oleh daulat Islamiyah Ottoman.

Antara tahun 1967 dan 1971, sekitar 10 ribu orang berkewarganegaraan Turki berimigrasi ke Australia berdasarkan perjanjian bilateral antara pemerintah Australia dan Turki. Sebagian besar dari mereka tinggal di Melbourne dan Sydney. Sejak 1970-an ini pula, pemerintah Australia mulai mengubah kebijakan imigrasinya. Daripada mencoba mengasimilasikan para imigran dari berbagai negara dengan kebudayaan Australia, pemerintah Australia bersikap lebih akomodatif dan toleran terhadap perbedaan dengan menerapkan kebijakan multikulturalisme.

Migrasi umat Muslimin skala besar dimulai pada tahun 1975 dengan bermigrasinya umat Muslimin dari Libanon, menyusul pecahnya Perang Sipil Libanon. Hingga kini, orang Libanon adalah kelompok Muslimin paling besar di Australia. 3,4% dari penduduk Sydney adalah umat Muslimin. Jumlah itu adalah setengah dari seluruh jumlah umat Muslimin di Australia.

Membangun Masjid di Auburn
Auburn adalah sebuah kawasan suburban di wilayah kota metropolitan Sydney, New South Wales, Australia. Kawasan ini terletak di sebelah tenggara Sydney, sekitar 19 kilometer dari distrik bisnis dan pusat pemerintahan. Auburn dinamai menurut sebuah puisi Oliver Goldsmith yang mendeskripsikan “Auburn” di Inggris sebagai desa di pegunungan yang paling indah.

Gambar 3 Masjid Auburn Gallipoli, New South Wales, Australia
Di kota inilah berkumpul paling banyak migran Muslim dari berbagai penjuru dunia. Mereka terutama terpusat di sebelah selatan stasiun kereta, yang merupakan area perdagangan yang merentang sekitar satu kilometer panjangnya. Di situ banyak terdapat toko, restoran dan supermarket yang menampakkan ciri khas Timur Tengah yang menonjol. Di tempat ini pula komunitas Muslimin Australia sering berkumpul jika ada acara penting seperti pertandingan sepak bola atau perkembangan politik terbaru di Timur Tengah.

Di pusat komunitas Muslimin Australia terbesar ini tentu saja dibangun sebuah masjid, yang kini dikenal sebagai Masjid Auburn Gallipoli. Gagasan untuk mendirikan masjid di Auburn sebenarnya sudah muncul pada tahun 1974, namun baru direalisasikan pada tahun 1979, ketika dibuka sebuah masjid sederhana pada tanggal 3 November 1979. Bentuknya masih seperti rumah biasa, tetapi dinding-dinding di bagian dalamnya disingkirkan sehingga terbentuk ruangan yang lebih besar.

Pada bulan Juli 1985, Auburn Municipal Council (Pemerintah Kota) melakukan diskusi mendalam dengan komunitas Muslimin di Auburn dan akhirnya menyetujui rencana pembangunan Masjid Auburn Gallipoli. Pada tahun 1986, komunitas Muslimin setempat memulai pembangunan masjid baru di lokasi tempat masjid sebelumnya berdiri. Arsiteknya adalah Omer Kirazoglu. Sebelum pembangunan dimulai, mereka melakukan ibadah bersama di dalam masjid yang pada waktu itu masih sederhana.

Selama pembangunan, kalangan masyarakat non-Muslim mengecam persetujuan yang diberikan oleh Auburn Municipal Council. Mereka merasa akan muncul kesulitan jika masjid itu selesai dibangun, karena pasti akan ada kemacetan lalu lintas – yaitu ketika umat Muslimin melakukan ibadah shalat Jumat di masjid. Bahkan, surat kabar lokal pernah menerbitkan kepala berita yang bernada negatif: “... customs and conventions of Islam have no place in Australia”.

Gambar 4 Masjid Auburn Gallipoli, New South Wales, Australia
Walaupun demikian, pembangunan masjid tetap dijalankan dan kemudian terbukti bahwa masjid ini justru menjadi bagian penting dalam komunitas setempat. Pembangunan masjid Auburn Gallipoli baru berakhir pada tanggal 28 November 1999, 13 tahun setelah mulai dibangun atau 20 tahun setelah dibuka pertama kali secara resmi.

Penyedia dana bagi pembangunan masjid ini – sekitar 6 juta dolar – sebagian besar adalah komunitas imigran Muslimin Turki. Mereka tergabung dalam Australian Turkish Muslim Community dan hingga kini merupakan separuh dari seluruh jamaah masjid ini.

Masjid Auburn Gallipoli dirancang dengan gaya arsitektur klasik Ottoman dengan meniru Masjid Sultan Ahmad di Istanbul, Turki, dan memperlihatkan pengaruh kesenian Islami yang kuat. Masjid ini cukup luas karena dirancang untuk menampung sekitar 5000 orang jemaah. Desain eskteriornya adalah bujur sangkar dengan sebuah kubah besar dan delapan bentuk semi-kubah, serta dilengkapi dengan dua menara. Diameter kubah adalah 16,6 meter dan tingginya (dihitung dari lantai) adalah 22,6 meter. Sedangkan tinggi kedua menara adalah 39 meter. Konstruksinya diperkuat dengan beton dan batu-bata.

Di dalam Kubah Utama terdapat 8 buah pilar dan didukung oleh bentuk semi-kubah yang ada. Dinding dan lantai di bagian dalam ruangan didekorasi dengan mozaik-mozaik berwarna. Jendela-jendelanya terbuat dari kaca berwarna. Jendela berbentuk lingkaran di sekitar bagian dasar kubah bertuliskan Asmaul Husna dalam huruf Arab.

Lantai dasarnya, tentu saja, terbuka sebagaimana masjid-masjid lain dan dilengkapi dengan mihrab yang sekaligus menjadi penunjuk ke arah Mekah serta mimbar tempat muazin mengumandangkan azan dan satu mimbar lagi tempat khatib memberikan khotbah. Menurut ajaran Islam, laki-laki dan wanita tidak boleh bercampur ketika bersembahyang, sehingga masjid ini pun dilengkapi dengan balkon khusus untuk para wanita dan anak-anak.
Nama “Gallipoli” sendiri mencerminkan warisan dari masa lalu yang telah dimiliki oleh masyarakat Australia sebagai sebuah masyarakat yang multikulturalis. Walaupun demikian, sebagaimana dengan masjid-masjid lain di dunia, umat Muslimin Australia dengan akar etnis dan ras yang berbeda-beda berhak menjalankan ibadah di masjid ini.

Untuk memudahkan komunikasi dengan saudara-saudara yang seiman di belahan dunia yang lain, takmir masjid Auburn Gallipoli telah membangun sebuah situs yang beralamatkan di http://www.gallipolimosque.org.au/.

Sumber internet
Sumber gambar

1 comments:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More